NEWS TIMES – Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons penutupan Selat Hormuz yang terjadi sejak akhir Februari 2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Akibatnya, dua Kapal Tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) terjebak di kawasan tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pihaknya terus berupaya untuk bisa keluar dari wilayah konflik.
“Pemerintah saat ini berupaya menempuh jalur diplomasi untuk mengeluarkan kapal yang mengangkut minyak mentah,”ujar Bahlil dalam konferensi Pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Namun terburuknya, jika langkah tersebut tidak bisa keluar maka perlu dilakukan pembelian minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melintasi Selat Hormuz. Jadi kita cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat.
Ketahanan energi nasional saat ini, masih dalam kategori aman meskipun jalur vital distribusi minyak dunia terganggu.
“Pasca penutupan Selat Hormuz ketahanan energi nasional saat ini berada, dalam kategori aman untuk jangka pendek. Meski jalur distribusi minyak dunia terganggu. Cadangan operasional BBM nasional saat ini mencukupi untuk 20 hingga 22 hari ke depan,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, angka ini masih berada di atas standar minimum ketahanan energi nasional sebesar 21 hari. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan agar stok BBM bisa mencapai 90 hari di masa depan sebagai langkah antisipasi jangka panjang.
“Penutupan selat ini diperkirakan, menghambat sekitar 25% impor minyak mentah Indonesia yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Sementara Indonesia telah memulai diversifikasi sumber impor untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah,”ungkapnya.
Sebagian impor minyak mentah (crude) kini dialihkan ke Amerika Serikat.
Untuk produk jadi BBM seperti bensin (RON 90, 92, 95, dan 98), pasokan diklaim lebih stabil karena mayoritas berasal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
“Pertamina juga tengah menyiapkan jalur alternatif pengiriman untuk memastikan tanker tetap bisa menjangkau kilang domestik tanpa melewati area konflik,”terangnya
Dilaporkan terdapat setidaknya dua kapal tanker Pertamina yang tertahan atau terjebak di sekitar Selat Hormuz akibat situasi keamanan tersebut. Pemerintah mulai mengalihkan sumber pasokan minyak mentah ke negara-negara di luar Timur Tengah untuk memastikan kilang domestik tetap beroperasi.
Rep: Rz/Newstimes.id Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News




