5 Kultum Ramadhan 1445 Hijriah yang Penuh Keberkahan

0
476
5-Kultum-Ramadhan-1445-Hijriah-yang-Penuh-Keberkahan
Konsultan Pajak Indonesia sekaligus Pembina Pesantren Yatim Mahabbatur Rosul Tulangan Sidoarjo, KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP. (foto: dok Pribadi)

Edisi Kultum Ramadhan Oleh:

Konsultan Pajak Indonesia & Pembina Pesantren Yatim Mahabbaturrosul Sidoarjo
KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP.

NEWS TIMES, Ruang Publik – Assallamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sahabat Newstimes.id yang di rahmati Allah SWT. Tak terasa kita akan kembali merasakan bulan yang penuh hikmah dan keberkahan dalam Ramadhan 1445 H/ 2024 M.

Selama Ramadhan, kita di tuntut menjalankan kewajiban Ibadah Puasa dan menahan diri dari segala bentuk manifestasi hawa nafsu, serta tak lupa memperpanyak ibadah dan berzakat demi meraih keberkahan ilahi.

Dalam kesempatan yang mulia ini, Konsultan Pajak Indonesia sekaligus Pembina Pesantren Yatim Mahabbatur Rosul Tulangan Sidoarjo, KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP akan mengantarkan materi Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ramadhan.

KH. Yulianto menuturkan, Kultum adalah sebuah kegiatan untuk menyampaikan sesuatu di depan khalayak. Bagi umat muslim, kultum ini menjadi suatu hal yang rutin dilaksanakan saat memasuki bulan Ramadhan.

“Pada umumnya, kultum disampaikan pada saat akan melaksanakan salat tarawih atau di sela-sela pelaksanaan tarawih. Sama halnya dengan ceramah, kultum juga disampaikan oleh pemuka agama, orang dengan pengetahuan memadai, atau memiliki pengaruh terhadap pendengarnya, “tutur Pembina Pesantren Yatim Mahabbatur Rosul Tulangan Sidoarjo, KH. Yulianto Kiswocahyono, Senin (11/3/2024)

Perbedaan kultum dengan ceramah sendiri hanyalah waktu penyampaiannya saja. Ceramah umumnya berlangsung hingga 15 menit, 30 menit, atau bahkan 1 jam, sedangkan kultum, sesuai dengan namanya, dilakukan dengan durasi terbatas. Artinya, kultum adalah versi singkat dari ceramah.

Adapun 5 contoh tema Kultum Ramadhan singkat yang dirangkum oleh Pembina Pesantren Yatim Mahabbatur Rosul Tulangan Sidoarjo, KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP:

  1. Keutamaan Bulan Ramadhan

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Adalah hak Allah pribadi untuk memuliakan suatu waktu atas waktu lain, suatu hari atas hari lain, atau suatu bulan atas bulan lain. Misalnya, Allah memuliakan bulan Ramadhan atas bulan- bulan lain. Tentu ketika Allah memuliakan sesuatu itu karena di dalamnya terdapat kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh lainnya. Dengan memiliki pemahaman demikian, kita akan mampu meningkatkan kepekaan diri untuk menggapai berbagai keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan ini.

Dalam bulan Ramadhan ini, Allah telah menebarkan berbagai keutamaan dan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara keutamaan tersebut adalah dibukanya pintu- pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, serta dibelenggunya setan-setan. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

Hadis ini memberikan pengertian bahwa dengan datang- nya bulan Ramadhan, berbagai pintu amal kebaikan terbuka lebar. Semua orang beriman mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Karena selain pintu kebaikan terbuka, Allah pun menolong hamba-Nya dengan memenjarakan para penggoda utama, yaitu setan. Kalau di luar Ramadhan setan dapat dengan leluasa melancarkan serangannya dengan berbagai godaan dan tipu daya, maka di bulan yang suci ini gerakan setan tertahan dengan izin Allah.

Kalaupun pada bulan ini masih ada yang berbuat maksiat, bisa saja itu muncul dari hawa nafsu manusia itu sendiri. Karena hawa nafsu jika tidak dikendalikan dengan landasan keimanan dan kejernihan hati, maka ia cenderung mendorong manusia kepada perbuatan yang buruk. (QS. asy-Syams: 8-10).

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh,

Keutamaan lain yang hanya ada di bulan Ramadhan adalah adanya lima keutamaan khusus untuk umat Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah, “Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah ‘azza wa jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berkalam (kepada surga), “Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang saleh dibebaskan dari beban dan derita mereka menuju kepadamu,” pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan ampunan untuk umatku pada akhir malam.

“Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu pada Lailatul Qadar?” Jawab beliau, “Tidak, namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad) Isnad hadis tersebut dhaif, dan di antara bagiannya ada nas-nas lain yang memperkuatnya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Yang terakhir dan ini sudah sangat populer, yaitu keutamaan malam lailatul qadar yang kebaikannya sama dengan seribu bulan. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-Qadr: 3, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

“Seribu bulan ini kalau kita hitung, kurang lebih setara dengan 83 tahun. Itu merupakan jangka waktu yang belum tentu kita semua bisa mendapatkannya. Karena rata-rata umur umat Muhammad adalah antara 60-70 tahun.

Melihat berbagai keutamaan yang Allah janjikan pada bulan Ramadhan, maka sudah sepatutnya sebagai umat Nabi Muhammad yang masih diberi kesempatan umur sampai bulan Ramadhan ini, mampu bersyukur dengan memaksimalkan seluruh kesempatan yang ada untuk menumpuk inventasi amal di akhirat.

Dari mulai berzikir, sedekah, iktikaf, menolong sesama dan qiyamul lail. Semua itu dilakukan untuk mencari ridha Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

2. Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Beberapa hari lagi, insya Allah kita akan kedatangan tamu agung, tamu yang diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tamu agung itu tiada lain adalah bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat bagi umat Islam di muka bumi ini. Bahkan bagi seluruh alam semesta, karena di bulan itu diturunkan kitab suci Al-Qur’an yang menjadi petunjuk kehidupan bagi seluruh manusia.

Tamu ini datangnya hanya satu tahun sekali, dan kalau sudah datang ia tidak akan kembali lagi. Karena yang hadir setahun berikutnya adalah bulan Ramadhan yang baru dengan lembaran amalan baru pula. Oleh karena itu, para salafus saleh selalu mendambakan kedatangan bulan Al- Qur’an ini dan menyambutnya dengan berbagai persiapan agar mereka berhasil meraih banyak keberkahan dalam bulan puasa ini.

Rasulullah sendiri selama tiga bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Hal ini terlihat dari doa yang beliau baca mulai sejak dari Bulan Rajab. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Mâlik, bahwa ketika memasuki Bulan Rajab, Rasulullah berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ بَارِك لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR. ath- Thabarâni, dengan sanad lemah).

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Bagi para salafus saleh, bulan Ramadhan adalah bulan training dan pendidikan, karena di dalamnya terjadi sebuah proses di mana seorang muslim dituntut untuk lebih baik daripada bulan- bulan lainnya. Para ulama salaf menjadikan bulan puasa sebagai bulan penempaan dan pembekalan diri untuk menghadapi hari- hari di luar bulan Ramadhan. Maka tidak aneh kita mendengar dari riwayat mereka yang menuturkan, bagaimana mereka berhasil mengkatamkan Al-Qur’an beberapa kali dalam satu bulan, dan tidak pernah meninggalkan qiyamul lail setiap malamnya. Mereka betul-betul memahami nilai keagungan bulan suci Ramadhan, sehingga mereka berusaha menggunakan setiap detik untuk diinvestasikan dalam amal kebaikan.

Sebagai contoh adalah Imam Bukhari yang dikenal sebagai ahli hadis. Beliau mempunyai aktivitas unik selama bulan Ramadhan, yaitu mengumpulkan para sahabatnya dan mengajak shalat berjamaah. Bersama para sahabatnya, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an selama tiga malam. Dipilihnya waktu sahur sebagai waktu khataman. Sedang di siang harinya, setiap hari beliau mengkhatamkan Al-Qur’an.

Ma’âsyiral muslimin, rahimakumullâh,

Pertanyaan yang muncul adalah, apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan ini? Tentu banyak hal yang perlu kita persiapkan, baik secara fisik maupun mental. Namun beberapa hal yang perlu kita persiapkan sejak dini, di antaranya adalah

  • Tobatan Nasuha dari segala dosa
  • menjaga hati dari berbagai penyakit yang bisa merusaknya,
  • tekad sepenuh hati untuk berubah menjadi insan yang bertakwa,
  • memahami karakter Ramadhan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya, dan
  • mempelajari hukum-hukum puasa.

Di samping itu, agar puasa kita tidak sia-sia, maka harus kita hindari perbuatan-perbuatan yang merusak nilai-nilai puasa. Seperti melakukan dosa walaupun kecil, menghabiskan waktu di depan TV, berlebihan dalam buka dan sahur, berlebihan tidur terutama di siang hari. Karena hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari makan, minum, dan nafsu, namun juga harus mampu menahan mulut, pandangan, hati, dan semua anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak sudi untuk membalas lapar dan dahaganya.” (HR. Bukhari)

3. Tentang Cara Berpuasa yang Benar

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah 35, Allah berkalam dalam Al-Qur’an, surat al-Baqarah,ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam ayat ini, Allah menegaskan kewajiban puasa Ramadhan bagi umat Islam. Maka barang siapa mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertobat. Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriah. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah akil balig dan berakal sehat.

Selain syarat kewajiban di atas, puasa dianggap sah jika memenuhi dua hal yang dikenal dengan rukun puasa. Pertama, niat mengerjakan puasa yang ditetapkan pada setiap malam bulan Ramadhan (untuk puasa wajib), atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Sebagian ulama (di antaranya mazhab Maliki) tidak mewajibkan niat di setiap malam bulan Ramadhan. Tetapi cukup di awal malam bulan Ramadhan, dengan niat akan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Waktu berniat adalah mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar. Niat ini tidak perlu disuarakan dengan keras, karena niat tempatnya dalam hati. Selain itu, niat yang dilafalkan dengan suara keras juga tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Kedua, meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sehingga terbenamnya matahari. Hal- hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, merokok, memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan, muntah dengan sengaja, dan bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja, kedatangan haid atau nifas, melahirkan anak atau keguguran, gila walaupun sekejap, mabuk ataupun pingsan sepanjang hari, dan murtad atau keluar dari agama Islam. Adapun apabila makan dan minum tidak dengan sengaja, maka hal itu tidak membatalkan puasa. Hal ini tercantum dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Apabila (seorang di antaramu) lupa lalu ia makan dan minum (padahal ia sedang berpuasa), maka hendaklah ia teruskan puasanya karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa sunnah puasa yang perlu dijaga ketika berpuasa, di antaranya adalah :

  • Makan sahur, Rasulullah bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari-Muslim).
  • Mengakhirkan makan sahur, sekitar setengah jam sebelum masuk waktu subuh. Ini tersebut dalam riwayat Anas, bahwa Zaid bin Tsåbit bercerita kepadanya, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah Kemudian kami melaksanakan salat.” Kemudian saya (Anas) bertanya, “Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan salat)?” Zaid menjawab, “Sekira bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari).
  • Menyegerakan berbuka, sebagaimana sabda Rasulullah “Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari Muslim).
  • Berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan air putih. Salah satu hikmah berbuka dengan kurma, dikarenakan kurma mengandung banyak glukosa yang sangat dibutuhkan tubuh yang baru saja berpuasa. Dalam sebuah riwayat diterangkan, “Hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Bukhari Muslim).
  • Berdoa sehabis berbuka, karena saat tersebut termasuk waktu di mana doa mudah dikabulkan. “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika saat berbuka ada doa yang tidak ditolak” (HR. Ibnu Majah). Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:\

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah.” (HR. Abu Dawud, an-Nasâ’i dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albâni).

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalakan ibadah puasa dengan benar.

4. Hikmah dan Manfaat Puasa

Ma’asyiral muslimîn rahimakumullah,

Sebagai orang mukmin, kita harus percaya bahwa semua yang disyariatkan oleh Allah kepada manusia, pastilah mengan- dung hikmah dan manfaat di dalamnya. Walaupun hikmah ataupun manfaat tersebut belum semuanya dapat diungkap oleh akal manusia yang serba terbatas.

Di antara syariat yang diwajibkan atas kita sekarang ini adalah menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam ibadah puasa ini, tentunya terdapat berbagai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Baik secara spiritual, kesehatan, ataupun ekonomi sosial.

Di antara hikmah puasa secara spiritual adalah puasa menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabbul ‘alamin. Dengan berpuasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan duniaeperti makan, minum, dan menggauli istri. Dengan kata lain, ia lebih mementingkan keinginan Rabbnya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Puncaknya adalah untuk menggapai derajat takwa. Sebagaimana Allah jelaskan,

  • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 183).
  • Apabila seseorang mam- pu mencapai derajat takwa, maka dengan mudah ia akan men- jalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Itulah sebabnya mengapa pada awal ayat perintah puasa ini dimulai dengan kalimat
  • “Hai orang-orang yang beriman, hal ini menunjukkan bahwa hanya orang yang memiliki keimanan yang benar, yang akan mampu menjalankan perintah puasa Ramadhan dengan benar dan penuh ketakwaan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dari segi kesehatan, sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli, puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat untuk tubuh, ketenangan jiwa, dan kecantikan. Saat berpuasa, organ- organ tubuh dapat beristirahat dan miliaran sel dalam tubuh bisa menghimpun diri untuk bertahan hidup.

Puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin atau racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh, dan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru serta untuk memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat, dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah.

Di samping itu, dengan puasa, tubuh menjadi lebih energik. Karena pada saat berpuasa, sistem pencernaan beristirahat. Sehingga energi disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh.

Energi akan digunakan untuk membersihkan dan detoksifikasi usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit. Puasa meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta meremajakan tubuh.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah,

Adapun hikmah atau manfaat puasa secara sosial ekonomi, tentu sangat banyak. Antara lain, puasa dapat mendorong seseorang untuk saling membantu kepada sesama. Karena ketika seseorang berpuasa, ia akan merasakan bagaimana laparnya orang-orang yang tidak mampu makan dengan layak. Sehingga terdorong olehnya untuk berbagi dengan sesama. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah selama bulan Ramadhan.

Dalam sebuah atsar sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas , ia berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih denawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari).

Secara ekonomi, manfaat puasa begitu jelas. Dengan datangnya bulan puasa, peredaran uang dan peningkatan perdagangan melonjak tinggi. Apalagi ketika menjelang hari raya. Namun yang patut disayangkan adalah bahwa manfaat puasa secara ekonomi ini ternyata belum bisa dimaksimalkan oleh orang-orang muslim.

Karena mayoritas perdagangan yang ada masih banyak dikuasai oleh non muslim. Sedangkan kita, hanya sebatas penggembira atau penonton. Semoga Allah menolong kita semuanya.

5. Puasa dan Persatuan Umat

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di bulan puasa seperti ini, rasa kebersamaan dan persatuan umat begitu terasa. Semua berpuasa di siang harinya, berbuka ketika azan magrib, dan bertarawih ketika malam. Suasana semacam itu, seharusnya mendorong umat Islam untuk selalu mengedepankan kebersamaan dan persatuan. Karena kalau dicari antara faktor kesamaan dan perbedaan, sungguh faktor kesamaan jauh lebih banyak daripada perbedaan.

Di samping itu, perlu dipahami seluruh umat bahwa kewajiban mewujudkan persatuan umat, sama dengan kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Kalau kewajiban puasa Ramadhan disebutkan dalam surah al-Baqarah: 183, maka kewajiban untuk mewujudkan persatuan, Allah jelaskan dalam surat Ali Imran: 103. Dalam ayat ini, secara tegas Allah sebutkan perintah persatuan dan melarang perpecahan. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kalau kita perhatikan, sebelum memerintahkan umat untuk bersatu, Allah lebih dulu memanggil orang beriman untuk bertakwa (Ali Imran: 102). Ini sama persis ketika Allah memerintahkan umat berpuasa, Allah pun mengawalinya dengan memanggil orang beriman untuk berpuasa yang tujuannya adalah mencapai ketakwaan.

Dengan terwujudnya nilai ketakwaan yang diperoleh dalam puasa pada setiap tahun, diharapkan mampu memberikan hasil riil. Di antaranya adalah terwujudnya persatuan di tengah umat. Dengan kata lain, orang yang berhasil meraih ketakwaan di bulan Ramadhan harus mampu menjadi unsur pemersatu umat. Apabila hal i belum tercapai, maka ketakwaaan seseorang masih dipertanyakan.

Nilai puasa semacam ini yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Jadi bukan hanya sekedar bersama dalam suasana puasa dan buka, yang lebih cenderung mengarah kepada persatuan simbolis, bukan esensi. Ini terbukti ketika menjelang dan berakhirnya bulan Ramadhan. Sebuah ibadah yang seharusnya menjadi alat pemersatu umat, malah menjadi pemicu perseteruan umat.

Perbedaan pandangan dalam hal penentuan kapan memulai puasa di bulan Ramadhan dan kapan mengakhirinya dengan perayaan Idul Fitri, tidak jarang menimbulkan perselisihan di antara kelompok umat Islam. Masing-masing pihak mempunyai cara sendiri untuk menentukan jadwal yang mereka anggap tepat, dan mereka bersikap teguh dengan pendiriannya. Belum lagi pandangan luar umat Islam yang negatif terhadap fenomena perbedaan semacam ini.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Bila orang Eropa yang sebagian besar non muslim telah mampu membuktikan diri untuk bersatu dengan wujud pasar bersama dan parlemen bersama Uni Eropa, padahal mereka terdiri dari berbagai bangsa dan golongan yang berbeda, maka mengapa kita tidak sanggup mewujudkan hal serupa? Bukankah unsur kesamaan antar umat Islam jauh lebih banyak dari pada unsur perbedaannya? Bukankah landasan umat Islam itu sama?

Bukankah perbedaan yang ada hanyalah sebatas masalah cabang (furu’) yang tidak prinsip, namun dianggap prinsip bagi sebagian kelompok? Semua pertanyaan ini tidak mungkin terjawab dengan benar, apabila kesadaran dan kedewasaan antar umat tidak ada. Selama masih ada ego kelompok, fanatisme mazhab, kepentingan politik, dan kedangkalan berpikir, maka persatuan dan kesatuan umat akan tetap menjadi mimpi belaka.

Oleh karena itu, kehadiran bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen penting umat Islam untuk mengatur dan merapatkan kembali barisannya. Perbedaan harus segera dicari solusinya, dan setiap kelompok harus mampu bersikap dewasa untuk melepas pendapatnya demi keutuhan dan kemaslahatan umat secara umum. Makna semacam inilah yang Rasulullah inginkan.

Sebagaimana dalam sabdanya, “Puasa adalah hari di mana kalian berpuasa, Al-Fithr adalah hari di mana kalian berbuka, sedang al-Adha adalah hari di mana kalian menyembelih kurban.” (HR. at-Tirmidzi, dan dia menilai, “Hadis ini gharib hasan.”).

Dalam hadis ini, Rasulullah menegaskan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Itu terlihat salah satunya dalam kebersamaan pelaksanaan ibadah seperti puasa dan hari raya. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk mampu melahirkan persatuan dan kesatuan di antara umat. Wallahul muwaffiq.

Demikian 5 tema Kultum yang dirangkum oleh Pembina Pesantren Yatim Mahabbatur Rosul Tulangan Sidoarjo, KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP. 

Wassllamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(Penulis: Konsultan Pajak Indonesia, KH. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP.)

(Editor : Newstimes.id)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here