
NEWS TIMES – Eskalasi ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, mulai memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Hingga awal Maret 2026, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi ancaman utama yang berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH.,BKP selaku Praktisi Perpajakan dan Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jatim menilai, konflik di Timur Tengah berdampak signifikan terhadap struktur APBN Indonesia. Karena ketergantungan pada impor energi dan stabilitas nilai tukar.
“Menurut saya ini adalah suatu hal yang paling berat. Jika harga minyak naik tentunya akan diiringi dengan kenaikan sibsidi BBM, diikuti kompensasi energi membengkak dan defisit APBN melebar, “ujar Yulianto dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut, Yulianto menuturkan, konflik yang terjadi memicu disrupsi pasokan yang dapat mendorong harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN (saat ini dipatok $70 per barel).
“Setiap kenaikan harga minyak yang drastis berpotensi memperlebar defisit APBN hingga ratusan triliun rupiah akibat bertambahnya beban subsidi BBM dan listrik. Anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun 2026 diperkirakan rawan “jebol” hingga Rp150 triliun akibat kenaikan harga minyak mentah, “tuturnya.
Kata Yulianto, jika harga minyak menembus US$ 100 per barel, beban belanja negara diprediksi melonjak hingga Rp309 triliun. Indonesia masih net importer minyak, jadi kenaikan harga global langsung membebani fiskal.
Sementara itu, kurs akan melemah dipicu ketidakpastian geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven), yang melemahkan nilai tukar Rupiah. Sedangkan pelemahan Rupiah meningkatkan, biaya impor migas dan beban pembayaran bunga serta pokok utang luar negeri dalam denominasi valas.
“Meskipun tertekan, kami berharap pemerintah melakukan pemantauan ketat terhadap selisih antara produksi minyak domestik (lifting) dan volume impor untuk meminimalkan dampak arus kas negara,”pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News



