Penulis : Praktisi Perpajakan dan Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP
Sebagai praktisi yang bergerak langsung di lapangan, melihat dinamika perekonomian Indonesia saat ini ibarat menavigasi kendaraan di jalan tol dengan cuaca yang berubah-ubah. Di satu sisi, indikator makroekonomi kita menunjukkan performa yang sangat impresif. Namun di sisi lain, realitas di tingkat akar rumput dan pasar menunjukkan tantangan yang tidak boleh diabaikan.
1. Fondasi Makro yang Solid
- Pertumbuhan Kuat: Ekonomi nasional mampu tumbuh di angka 5,61% pada kuartal pertama, didukung oleh likuiditas perbankan yang cukup dan rasio kecukupan modal yang sehat.
- Sektor Keuangan Terjaga: Neraca korporasi secara umum berada dalam posisi yang sehat, dengan rasio utang yang lebih terkontrol sehingga mampu memitigasi risiko gejolak pasar keuangan global.
2. Dualisme: Pertumbuhan vs. Daya Beli
- Tekanan Inflasi: Kenaikan harga bahan bakar dan komoditas pangan memberikan efek domino terhadap biaya produksi dan distribusi.
- Mode Bertahan (Survival Mode): Penyesuaian harga dan penurunan daya beli membuat banyak masyarakat kelas menengah-bawah mengerem pengeluaran dan masuk ke dalam fase “mode bertahan”. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada perputaran konsumsi domestik.
3. Dinamika Nilai Tukar dan Ketidakpastian Global
-
- Efisiensi Operasional: Mengoptimalkan teknologi digital untuk menekan biaya operasional yang membengkak akibat inflasi.
- Ketangkasan Finansial (Financial Agility): Menjaga arus kas (cash flow) yang sehat dan melakukan manajemen risiko mata uang secara ketat.
- Inovasi Produk: Mengembangkan produk yang sesuai dengan daya beli masyarakat saat ini tanpa menurunkan standar kualitas.
Pemerintah terus melakukan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan menjaga daya beli. Potensi besar dari sektor hilirisasi, peningkatan devisa dari pariwisata, serta optimalisasi sektor ekonomi digital diharapkan mampu menjadi mesin pendorong baru untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis Adv. Yulianto Kiswocahyono.,SE.,SH.,BKP dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi newstimes.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News




