Refleksi Praktisi: Menavigasi Ketahanan dan Tantangan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

0
15
refleksi-praktisi-menavigasi-ketahanan-dan-tantangan-ekonomi-indonesia-di-tengah-ketidakpastian-global
Adv. Yulianto Kiswochyono, SE.,SH.,BKP. (foto : by Redaksi)

Penulis : Praktisi Perpajakan dan Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP


Sebagai praktisi yang bergerak langsung di lapangan, melihat dinamika perekonomian Indonesia saat ini ibarat menavigasi kendaraan di jalan tol dengan cuaca yang berubah-ubah. Di satu sisi, indikator makroekonomi kita menunjukkan performa yang sangat impresif. Namun di sisi lain, realitas di tingkat akar rumput dan pasar menunjukkan tantangan yang tidak boleh diabaikan.

Berikut adalah bedah kondisi ekonomi Indonesia saat ini dari kacamata Praktisi Perpajakan dan Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP :

1. Fondasi Makro yang Solid

Tidak dapat dipungkiri, fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang kuat, jauh lebih tangguh dibandingkan krisis-krisis masa lalu. Hal ini dibuktikan oleh :
  • Pertumbuhan Kuat: Ekonomi nasional mampu tumbuh di angka 5,61% pada kuartal pertama, didukung oleh likuiditas perbankan yang cukup dan rasio kecukupan modal yang sehat.
  • Sektor Keuangan Terjaga: Neraca korporasi secara umum berada dalam posisi yang sehat, dengan rasio utang yang lebih terkontrol sehingga mampu memitigasi risiko gejolak pasar keuangan global.

2. Dualisme: Pertumbuhan vs. Daya Beli

Meskipun angka pertumbuhan makro positif, terdapat anomali yang dirasakan oleh para pelaku bisnis. Bagi konsumen, indikator ekonomi tidak sekadar diukur dari PDB (Produk Domestik Bruto), melainkan dari pendapatan, harga barang, dan ketersediaan lapangan kerja.
  • Tekanan Inflasi: Kenaikan harga bahan bakar dan komoditas pangan memberikan efek domino terhadap biaya produksi dan distribusi.
  • Mode Bertahan (Survival Mode): Penyesuaian harga dan penurunan daya beli membuat banyak masyarakat kelas menengah-bawah mengerem pengeluaran dan masuk ke dalam fase “mode bertahan”. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada perputaran konsumsi domestik.

3. Dinamika Nilai Tukar dan Ketidakpastian Global

Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya tensi geopolitik global turut membebani biaya operasional. Pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku impor harus memutar otak untuk melakukan efisiensi dan mencari substitusi lokal agar tidak menaikkan harga jual secara ekstrem.
Strategi Praktisi: Langkah Adaptasi Pelaku Usaha
Untuk dapat bertahan dan menangkap peluang di tengah kondisi ini, para praktisi bisnis saat ini umumnya berfokus pada tiga pilar utama:
    1. Efisiensi Operasional: Mengoptimalkan teknologi digital untuk menekan biaya operasional yang membengkak akibat inflasi.
    2. Ketangkasan Finansial (Financial Agility): Menjaga arus kas (cash flow) yang sehat dan melakukan manajemen risiko mata uang secara ketat.
    3. Inovasi Produk: Mengembangkan produk yang sesuai dengan daya beli masyarakat saat ini tanpa menurunkan standar kualitas.

Prospek ke Depan

Pemerintah terus melakukan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan menjaga daya beli. Potensi besar dari sektor hilirisasi, peningkatan devisa dari pariwisata, serta optimalisasi sektor ekonomi digital diharapkan mampu menjadi mesin pendorong baru untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis Adv. Yulianto Kiswocahyono.,SE.,SH.,BKP dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi newstimes.id


Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here