Muktamar IV YA Ibad Dorong Dakwah dan Kepedulian Lingkungan

0
1

NEWS TIMES – Muktamar IV YA Ibad menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam menyebarkan nilai kebaikan sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini diikuti pengurus YA Ibad dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Pelaksana Muktamar IV YA Ibad, Yusuf Ibrahim, S.Pd, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada dakwah, tetapi juga pembentukan sumber daya manusia dan penguatan kepedulian sosial.

Menurutnya, nilai-nilai kebaikan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal sederhana hingga persoalan yang lebih besar.

“Tujuannya menyebarkan rahmat kepada seluruh alam semesta. Kami berusaha membentuk sumber daya manusia yang potensial sekaligus meningkatkan kualitas kepribadian secara berkesinambungan,” kata Yusuf, Sabtu 5 September 2026.

Yusuf menyebut YA Ibad juga memberi perhatian terhadap pencegahan kenakalan remaja dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui kerja sama dengan Polri dalam program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu perhatian YA Ibad. Menjelang Muktamar III di Bogor pada 2018, organisasi tersebut mulai membangun komitmen bersama untuk peduli terhadap persoalan sampah.

Komitmen itu kemudian dikembangkan melalui program Desa Ramah Bumi. Di dalamnya terdapat sejumlah program unggulan, mulai dari gerakan meminimalkan sampah, pengelolaan sampah hingga komposting, desa sehat jasmani dan rohani, gerakan menanam, serta mendorong kegiatan ekonomi masyarakat yang tetap memperhatikan lingkungan.

“Kalau masih ada sampah, bagaimana caranya kita minimalkan. Kemudian sampah yang ada kita kelola, salah satunya dengan komposting. Kami juga mendorong jamaah untuk hobi menanam dan ketika punya usaha tetap memperhatikan lingkungan,” ujarnya.

Yusuf mengatakan gagasan tersebut kemudian menemukan relevansinya dengan program eco-teologi yang dikembangkan Kementerian Agama. Konsep tersebut mendorong kesadaran bahwa keberagamaan juga harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurut Yusuf, prinsip tersebut sejalan dengan nilai yang selama ini dibangun YA Ibad, yakni menempatkan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi.

Yusuf mengatakan sebelum pelaksanaan Muktamar IV, YA Ibad juga menggelar safari ke sejumlah cabang selama Februari 2025 hingga 2026. Kegiatan tersebut menjadi sarana konsolidasi sekaligus memperkuat keterlibatan jamaah dan masyarakat.

“Saat ini pengurus YA Ibad sudah berjumlah 27 cabang di Indonesia. Muktamar ini dihadiri pengurus dari berbagai daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Basnang Said, mengapresiasi langkah Yayasan Al Mukhlasin Ibadurrahman yang dinilai ikut mengimplementasikan program prioritas pemerintah.

Ia menilai kepedulian terhadap isu lingkungan menjadi salah satu bentuk nyata peran masyarakat dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Yayasan Al Mukhlasin Ibadurrahman karena menjadi bagian yang mengimplementasikan program-program prioritas pemerintah, termasuk yang berkaitan dengan iklim,” kata Basnang.

Menurutnya, Kementerian Agama juga terus mendorong pendekatan eco-teologi untuk membangun kesadaran bahwa ajaran agama memiliki keterkaitan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Basnang membuka peluang kerja sama antara Kementerian Agama dengan Yayasan Al Mukhlasin Ibadurrahman untuk memperkuat gerakan tersebut.

“Kami berharap nanti insyaallah bisa bekerja sama antara Kementerian Agama dengan Yayasan Al Mukhlasin,” ujarnya.

Basnang juga menilai keberadaan yayasan dan organisasi keagamaan memiliki peran penting dalam memperkuat sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, kontribusi mereka tidak hanya melalui pendidikan, tetapi juga pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat.

Ia menyebut pembangunan kesejahteraan membutuhkan dua fondasi penting, yakni pendidikan dan penguatan ekonomi. Karena itu, peran masyarakat melalui yayasan dan lembaga pendidikan dinilai tidak bisa dilepaskan dari upaya pemerintah membangun kualitas manusia.

Di sisi lain, kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sekitar 17 ribu pulau membuat upaya menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan masyarakat.

“Kelangsungan anak-anak kita tergantung seperti apa kita menjaga alam. Karena itu, peran masyarakat sangat ditunggu untuk menjaga alam ini,” kata Basnang.

Melalui Muktamar IV, YA Ibad berharap gerakan dakwah tidak berhenti pada kegiatan keagamaan, tetapi juga hadir menjawab persoalan sosial, kepemudaan, pemberantasan narkoba hingga persoalan lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here