IHSG Terguncang, Adv Yulianto Sebut Krisis Kepercayaan dan Alarm Keras MSCI sebagai Pemicu Utama

0
32
ihsg-terguncang-yulianto-sebut-krisis-kepercayaan-dan-alarm-keras-msci-sebagai-pemicu-utama
Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jatim Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE.,SH.,BKP. (foto: by Redaksi)

NEWS TIMES – Pasar modal Indonesia diguncang sentimen negatif dalam beberapa hari terakhir yang menyebabkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan hingga memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt). Gejolak ini mencapai puncaknya pada pekan terakhir Januari dan masih membayangi pembukaan pasar di awal Februari 2026.

Pemicu utamanya adalah, Sentimen MSCI dan Krisis Kepercayaan. Guncangan hebat ini bermula dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti masalah transparansi, likuiditas, dan validitas free float pada saham-saham di Indonesia.

Namun, Sebagian besar ahli menilai bahwa anjloknya indeks hingga lebih dari 8% bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal krisis kepercayaan investor terhadap transparansi pasar modal Indonesia.

Praktisi Perpajakan sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jatim Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE.,SH.,BKP menilai, keputusan MSCI untuk membekukan perubahan indeks bagi sekuritas Indonesia adalah pemicu utama aksi jual masif.

“Isu utama yang disoroti adalah keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham (free float) yang memicu kekhawatiran investor global mengenai pembentukan harga wajar di bursa Indonesia,”ujar Adv. Yulianto kepada Newstimes.id

Lebih lanjut Menurut Adv. Yulianto, gejolak ini harus menjadi alarm keras bagi regulator untuk segera melakukan reformasi total pada tata kelola pasar modal agar kepercayaan investor global tidak hilang permanen.

“Kami menekankan pentingnya otoritas bursa memberikan kejelasan mengenai siapa pemegang saham sesungguhnya di balik emiten-emiten besar,” tegasnya.

Meski kondisi sempat kritis, Adv. Yulianto melihat, adanya peluang rebound teknis pada awal Februari 2026.

“Kami merekomendasikan strategi “simpan aset” (asset management) untuk meredam penurunan lebih dalam (drawdown) sembari menunggu rilis data ekonomi nasional terbaru. Tentunya kami mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk segera melakukan komunikasi publik yang lebih transparan guna menenangkan pasar dan mencegah penurunan status Indonesia dalam indeks global,” pungkanya.

Writer: Malik/Newstimes.id

Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here