NEWS TIMES – Harga sejumlah komoditas pangan pokok secara nasional dilaporkan mengalami tren kenaikan pada hari ini, Senin (5/1/2026). Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), mayoritas harga pangan kompak meningkat di awal pekan pertama tahun ini.
Beberapa bahan pokok yang mencatatkan kenaikan harga hari ini antara lain beras masing-masing sebesar 0,18% dibandingkan pekan sebelumnya, kemudian minyak goreng, daging sapi dari Rp120.000 menjadi kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram, dan cabe rawit di beberapa wilayah, harga cabai rawit hijau melonjak tajam dari Rp50.000 menjadi Rp80.000 per kilogram..
Pengamat Ekonomi dan Praktisi Perpajakan Yulianto Kiswocahyono.,SE.,SH.,BKP menilai faktor kenaikan harga ini dipicu oleh sisa permintaan tinggi dari libur Natal dan Tahun Baru 2026 masih memberikan tekanan pada stok pasar. Kemudian faktor cuaca yang tidak menentu di beberapa wilayah sentra produksi mengganggu distribusi dan masa panen sejumlah komoditas hortikultura.
“Tentunya diikuti dengan kondisi ketegangan geopolitik, antara AS dan Venezuela yang memicu kekhawatiran kenaikan biaya logistik, akibat fluktuasi harga energi global turut memengaruhi ekspektasi harga di tingkat distributor,” ujar Yulianto Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jatim, Senin (5/1/2026).
Akan tetapi, kata Yulianto pemerintah untuk segera melakukan intervensi guna mencegah “bom waktu” inflasi di awal tahun.
“Kenaikan harga pangan di awal Januari ini sangat berisiko karena bertepatan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah akibat sentimen geopolitik global (konflik AS-Venezuela). Jika biaya logistik naik karena harga BBM ikut terpengaruh, maka harga pangan di tingkat konsumen akan melonjak lebih ekstrem,” terang Yulianto.
Yulianto menuturkan, kenaikan harga pangan ini menjadi tantangan berat bagi efektivitas kebijakan pemerintah.
“Pemerintah memang baru saja membebaskan PPh 21 untuk sektor padat karya mulai hari ini. Namun, jika harga beras, minyak goreng, dan daging terus naik, tambahan penghasilan bersih (take-home pay) pekerja tersebut akan langsung habis terserap oleh biaya makan harian. Insentif pajak jadi tidak terasa dampaknya,” tutur seorang ahli perpajakan nasional.
Yulianto menyarankan langkah mendesak kepada pemerintah, untuk segera menyalurkan cadangan pangan nasional guna menekan harga beras dan minyak goreng di pasar tradisional.
“Satgas Pangan perlu memastikan tidak ada spekulan yang memanfaatkan momentum ketegangan global, untuk menahan stok pangan di gudang-gudang distributor. Kemudian mempertimbangkan subsidi biaya angkut bahan pangan, antarwilayah jika fluktuasi harga energi global mulai membebani biaya distribusi domestik,” pungkasnya.
Meski demikian, Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Satgas Pangan terus berupaya melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas harga agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat di awal tahun 2026 ini.
Writer: Malik/Newstimes.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News




