Peringatan Hari Ibu KBP, Di Wajibkan Wanita Untuk Memakai Busana Nusantara

0
259

Peringatan Hari Ibu yang sebentar lagi akan jatuh pada tanggal 22 Desember, kampung polowijen Kota Malang, memperingati terlebih dahulu, dengan mengadakan acara ibu-ibu mengenakan sanggul budaya, di ikuti beserta puluan anak-anak penari yang juga mengenakan sanggul kebaya Nusantara , pada Minggu (17/12/2023).

Acara yang dikemas dalam bentuk tutorial UMA, para anak anak di haruskan merias ibunya sendiri. Serta tutorial memakai sanggul, sederhana. Inti acara yang di suguhkan, adalah bagaimana caranya peringatan hari ibu bisa meriah dan menyentuh hati.

Dalam sambutnya Isa Wahyudi meminta kepada ketua umum PBN agar mengawal pakaian khas daerah, sebagai penggagas KBP menyampaikan, “budaya akan tetap terus terjaga, jika perempuan berdaya, karenanya itu kita mendorong, kelompok kelompok, khususnya perempuan agar aktif, menggali kembali budaya dan mengekspresikan, melalui berbagai media, sambut” pria yang akrab di sapa Ki Demang”.

Acara yang di isi dengan berbagai macam ekspresi mulai dari ibu-ibu menari, Beskalan Putri Malang dan anak anak menari topeng Ragil kuning.

Acara berlanjut dengan berbagai macam ekspresi mulai dari ibu-ibu menari Beskalan Putri Malang dan anak-anak menari Topeng Ragil Kuning. Selain itu ada tampilan tari Remo, tari Gambyong, dan ragam tari kreasi tradisi lainnya. Apresiasi make up anak-anak ke Ibu dan cara bersanggul serta fashion show kebaya anak-anak dan ibu-ibu menjadi penilaian tersendiri. Apresiasi ini sebagai wujud kecintaan kepada ibu di peringatan hari Ibu yang bertema Ibu Berdaya Budaya Terjaga.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Perempuan bersanggul Nusantara bertekat memajukan budaya nusantara dan salah satunya di jawa dengan turut membentuk komunitas remaja bersanggul milenial agar mereka tahu busana khas daerahnya yang bisa menjadi kebanggaan bersama. “kedepan kami akan audiensi kepada pimpinan daerah di seluruh kota agar mengkaji ulang dan menetapkan busana khas daerah masing-masing yang selama ini banyak keluar dari pakem aslinya” ujar Sany Repriandini.

“Kali ini perlu dilakukan konsolidasi bagi para perempuan penggerak dari berbagai elemen untuk mewujudkan cita cita kesetaraan dan keberdayaan untuk meneguhkan agar budaya tidak luntur”, imbuhnya.

“Salah satunya busana khas daerah misalnya kebaya harus lebih sering di kenakan pada berbagai event, momentum di pakai dan digunakan pada mestinya”, lanjutnya.

“Turunan dan busana daerah ini masuk dalam ekonomi kreatif untuk kriya dan fashion termasuk seni pertunjukan yang berpeluang menciptakan lapangan pekerjaan” sehingga perempuan ini bisa lebih berdaya untuk menjaga budaya bangsa”, jelasnya .

Dalam kesempatan yang sama, Yulia Rahmawati sebagai narasumber make up artis yang sudah dua kali membagikan ilmunya di KBP merasa senang dilibatkan dalam peringatan hari ibu. Baginya ini pengalaman berharga bisa terlibat langsung dalam komunitas kampung budaya yang selama ini menjadi beliau lebih nanyak memberikan tutorial dari hotel ke hotel.

“Saya senang dan bangga bisa berbagi ilmu di sini, suasananya beda di KBP banyak penari cantik-cantik, make up artis sebagai penunjang performan mereka saat tampil dalam seni pertunjukan, perlombaan dan mampu menunjukkan kelasnya”. Ini tantangan perlu kiranya pendampingan ibu-ibu dan anak-anak soal saling bisa merias dan akan lebih efektif dan efisien jika dalam satu keluarga terlibat”, tutup Owner Yulia Maria yang ingin berbakti di KBP menjadi bagian upaya menjaga budaya.(fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here