Sambut Ramadhan 1447 Hijriah, Warga Kenongo Gelar Tradisi Megengan

0
101
sambut-ramadhan-1447-hijriah-warga-kenongo-gelar-tradisi-megengan
Sambut Ramadhan 1447 Hijriah, Warga Kenongo Gelar Tradisi Megengan. (foto: SL/Newstimes.id)

NEWS TIMES – Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang pada umumnya terdapat di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur dalam menyambut bulan suci.

Kini menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, puluhan warga mulai anak-anak, hingga dewasa di Kalilom Lor Indah Gang Kenongo, Tanah Kali Kedinding, Kenjeran Surabaya menggelar tradisi Megengan.

Tradisi megengan itu bukan hanya di kalangan menengah ke atas, melainkan juga dikalangan masyarakat menengah ke bawah. Megengan itu terlihat hingga di pelosok kampung kecil yang penuh dengan keguyuban, kerukunan dan kekompakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus persiapan menyambut bulan puasa.

Tradisi Megengan digelar pada Senin malam, 16 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Warga berkumpul dengan membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing. Makanan yang dibawa kemudian didoakan bersama sebagai wujud harapan agar diberikan kelancaran dan keberkahan selama menjalankan ibadah puasa.

sambut-ramadhan-1447-hijriah-warga-kenongo-gelar-tradisi-megengan
Warga Kenongo Gelar Tradisi Megengan, dihadiri Ibu serta anak. (foto: SL/Newstimes.id)

Suasana kekeluargaan tampak kental saat warga duduk bersila dan mengikuti rangkaian doa dengan khidmat dipimpin oleh ustad Munaji, mulai dari kiriman doa buat para Almarhum-almarhumah, dilanjutkan dengan surah Yasin dan tahlil serta doa-doa keselamatan, kelancaran rezeki juga dipanjatkan.

Usai doa bersama, tumpeng yang telah disiapkan dipotong dan dibagikan kepada warga untuk dinikmati bersama. Tradisi makan bersama ini juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur atas kesempatan kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan.

Kegiatan megengan ini pun hadiri dari berbagai kalangan anak kecil hingga dewasa. Mulai dari Ketua RT, staf RT dan puluhan warga bapak-bapak, ibu-ibu serta anak-anak.

Dalam tradisi Megengan ini tidak hanya sebagai ikhtiar memohon kelancaran selama menjalankan ibadah puasa, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga semangat gotong royong antarwarga. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap nilai kebersamaan dan kepedulian sosial tetap terjaga di tengah kehidupan bermasyarakat.

Untuk diketahui, bahwa asal-usul dan tujuan megengan adalah Tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh Wali Songo untuk menyambut Ramadan dengan penuh rasa syukur. “Megengan” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menahan” (megeng), sebagai simbol menahan hawa nafsu sebelum berpuasa.

Megengan terbiasa dengan membaca doa di masjid, mushola, atau rumah, seringkali ditujukan untuk mendoakan leluhur.

Megengan tidak jarang Masyarakat membawa makanan, terutama kue apem, nasi berkat, atau buah pisang untuk didoakan (selametan) lalu dibagikan kembali.

Simbol Kue Apem yaitu Simbol khas (dari kata afwun atau afuwwun yang berarti maaf/ampunan), menandakan permohonan maaf kepada sesama. (SL)

Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here