Nahas, Pesawat Super Tucano Milik TNI AU Jatuh dan Menewaskan 4 Penerbang

0
200
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama R Agung Sasongkojati saat memberikan keterangan pers (foto: Irfan/Newstimes.id)

NEWS TIMES, Malang Raya – Nahas, Pesawat Super Tucano milik TNI AU mengalami kecelakaan di dua tempat, yakni Pasuruan dan Probolinggo, pada Kamis siang (16/11/2023).

Dua unit pesawat tempur yang jatuh itu jenis, EMB-314 Super Tucano dengan tipe pesawat alutsista dengan nomor TT-3111 dan TT-3103. Insiden ini, telah menewaskan 4 penerbang.

Kejadian, berawal dimana saat sebelum kejadian chevron flight, melaksanakan stition pada pukul 10.15 WIB. Chevron flight melaksanakan start engine 4 A/C pada pukul 10.39 WIB.

Chevron flight melaksanakan take off dari Lanud Abdulrachmansalleh pada pukul 10.50 WIB, per element di lanjutkan dengan join dan membentuk box formation continue routing melalui area alpha, bravo, charlie, dan delta.

Pada pukul 11.18 WIB, chevron satu dan chevron dua dinyatakan lost contack dan pada pukul 11.31 WIB chevron tiga beserta chevron empat landing dengan selamat di Bandara Abdulrachmansaleh.

Dalam kejadian tersebut tim evakuasi dari TNI AU saat ini tidak hanya berfokus untuk melakukan pencarian korban pilot pesawat super Tucano yang meninggal dunia saat melakukan latihan terbang Profisiensi Formation, namun mereka juga tengah fokus untuk melakukan pencarian data recorder dari dua pesawat super Tucano yang jatuh di Pasuruan dan Probolinggo.

Kadispen TNI AU Marsma Agung Sasongkojati mengatakan bahwa saat ini personel TNI AU tengah mencari keberadaan data recorder dari dua unit pesawat yang jatuh itu untuk menemukan gambaran jelas kecelakaan.

“Data recorder pesawat ini menyimpan gambar, kamera, suara, posisi, lokasi ketinggian, kecepatan semua yang dibutuhkan termasuk kondisi mesin pesawat,” ujar Agung pada awak media, Kamis (16/11/2023).

Untuk bisa menemukan data recorder dari dua pesawat super Tucano itu, saat ini pihak TNI AU telah mengirim beberapa personil.

“Kami kirim beberapa tim ke setiap lokasi,” katanya.

Agung juga mengimbau bagi masyarakat yang menemukan bangkai rangka pesawat buatan Brazil itu agar segera melaporkan kepada personel TNI AU. Rangka pesawat ini akan dijadikan alat bukti untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Saya ingatkan kalau menemukan benda aneh jangan disimpan atau dibawa karena kami saat ini hendak mengambil data recorder,” ujarnya.

Cuaca Buruk yang menyebabkan Faktor 2 Pesawat Super Tucano Alami Kecelakaan dan terjatuh dia daerah wilayah Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, serta di Bukit Kundi, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.

Pihak TNI AU menyatakan bahwa dua pesawat dari Skadron 21 Lanud And Saleh Malang yang mengalami kecelakaan dan menewaskan 4 penerbang pada Kamis (16/11/2023) siang, murni disebabkan karena cuaca buruk.

“Ini pure (murni) cuaca buruk tidak ada tabrakan antar pesawat dari yang kita lihat terbang dekat lereng gunung,” ungkap Kadispenau Marsma TNI R. Agung Sasongkojati pada awak media, Kamis (16/11/23) sore.

Agung juga mengatakan bahwa untuk penyebab detail jatuhnya pesawat Super Tucano milik Skadron 21 Lanud Abd Saleh itu, pihaknya belum bisa ia sampaikan, karena masih menunggu penyelidikan lebih lanjut.

“Kami belum bisa memastikan karena harus penyelidikan lebih lanjut,” ungkapnya.

Untuk sementara, data recorder yang bisa digunakan untuk menelusuri penyebab jatuhnya dua pesawat super Tucano itu belum bisa ditemukan. Hal itu disebabkan karena lokasi jatuhnya pesawat berada di medan yang cukup sulit dilalui.

“Data recorder pesawat ini menyimpan gambar kamera dan suara posisi lokasi ketinggian kecepatan semua yang dibutuhkan termasuk kondisi mesin pesawat. Tolong bantuannya (jika warga menemukan) jangan memindahkan dan mengamankan benda itu,” ungkap Agung.

Dalam kecelakaan pesawat super Tucano itu, 4 penerbang TNI AU dari Skadron 21 Lanud Abd Saleh dinyatakan tewas. 4 penerbang itu adalah Letkol Pnb Sandra Gunawan, Kol Widiono, Mayor Pnb muda Yudha Seta, Kol Pnb Subhan.

Dalam kecelakaan pesawat super Tucano itu, 3 penerbang TNI AU dari Skadron 21 Lanud Abd Saleh dinyatakan meninggal. Ketiganya adalah, Kol Widiono, Mayor Pnb muda Yudha Seta, Kol Pnb Subhan.

Sementara untuk satu lainnya yakni Letkol Pnb Sandhra “Chevron” Gunawan (Komandan Skadron Udara 21) masih dalam pencarian. (Ir/Newstimes.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here