Bahan Bakar Avtur Meroket, Praktisi Yulianto Waspadai Ancaman Kenaikan Tarif Tiket

0
28
bahan-bakar-avtur-meroket-praktisi-yulianto-waspadai-ancaman-kenaikan-tarif-tiket
Praktisi Perpajakan dan Ekonomi Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE.,SH.,BKP. (foto: Dok Pribadi For Newstimes.id)

NEWS TIMES – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada sektor transportasi udara global. Harga bahan bakar pesawat (Aviation Turbine Fuel/Avtur) dilaporkan mengalami lonjakan hingga 80 persen atau kisaran US$85 hingga US$90 per barel, yang memicu kekhawatiran akan kenaikan harga tiket pesawat menjelang periode mudik Lebaran.

Kenaikan BBM jenis avtur dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka US$ 100 per barel.

Menunurut Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jatim Adv. Yulianto Kiswocahyono, SE.,SH.,BKP, kenaikan harga ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar di kawasan produsen minyak, yang menyebabkan gangguan pada rantai pasok global.

“Kenaikan harga avtur dunia yang menembus angka kritis akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius. Dampak dari fenomena ini tidak hanya akan memukul industri maskapai, tetapi juga berisiko menciptakan efek domino pada stabilitas ekonomi nasional,”ujar Yulianto yang juga Praktisi Perpajakan dan Ekonomi, di Surabaya, Rabu (11/3/2026).

Lebih lanjut, Yulianto menilai, kenaikan avtur merupakan bentuk nyata dari cost-push inflation, di mana kenaikan biaya produksi (dalam hal ini logistik udara) memaksa harga jual produk dan jasa naik.

“Transportasi udara adalah urat nadi logistik untuk barang-barang bernilai tinggi.. Jika biaya avtur naik, maka biaya logistik akan ikut terkerek. Ujung-ujungnya, harga barang di tingkat konsumen akan naik, yang kemudian menekan angka inflasi nasional,” tuturnya

Sementara kata Yulianto, sektor pariwisata yang baru saja pulih sepenuhnya. Kenaikan harga tiket pesawat yang drastis dikhawatirkan akan menurunkan minat masyarakat untuk bepergian.

“Hotel dan UMKM di daerah tujuan wisata diprediksi akan mengalami penurunan kunjungan jika akses penerbangan menjadi tidak terjangkau. Konsumen kelas menengah kemungkinan besar, akan menahan belanja non-primer (seperti liburan) untuk dialokasikan ke kebutuhan pokok yang harganya juga mulai naik,”urainya.

Yulianto menyarankan, untuk memitigasi dampak buruk tersebut, pihkanya memberi beberapa langkah strategis untuk pemerintah. Pemerintah disarankan meninjau kembali komponen pajak pada bahan bakar pesawat untuk memberikan ruang napas bagi maskapai.

“Pemerintah perlu mendorong maskapai nasional untuk lebih proaktif melakukan hedging harga bahan bakar guna meminimalisir fluktuasi harga di masa depan. Maskapai diminta melakukan optimasi rute untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu. Untuk itu, pemerintah harus bertindak cepat. Jika tidak ada intervensi atau insentif, tekanan pada sektor transportasi udara ini bisa menghambat target pertumbuhan ekonomi tahun ini,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di WhatsApp Channel & Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here