Cegah Karhutla, Bambang Haryo Usul Hutan Dipasangi Sistem Penyemprot Air

0
3

NEWS TIMES – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono mengusulkan pemasangan sistem penyemprot air atau sprinkler di kawasan hutan untuk mengantisipasi kebakaran saat musim kemarau. Menurutnya, perawatan hutan perlu dilakukan secara berkala ketika curah hujan menurun agar vegetasi tidak terlalu kering dan rentan terbakar.

Bambang menilai kebakaran hutan yang berulang setiap tahun semestinya dapat diantisipasi melalui langkah pencegahan. Ia mengingatkan Indonesia memiliki periode kemarau yang perlu dihadapi dengan perawatan kawasan hutan, bukan hanya penanganan ketika api sudah muncul.

“Begitu banyak kebakaran hutan ini yang sebenarnya harusnya tidak boleh terjadi. Kita tahu bahwa setiap tahun kita mengalami kemarau, yaitu kurang lebih sekitar tiga bulan,” kata Bambang.

Ia menjelaskan, kondisi hutan tropis sangat bergantung pada curah hujan. Ketika hujan turun, vegetasi dapat tumbuh subur. Namun, saat hujan tak kunjung datang, kawasan hutan membutuhkan perhatian agar kondisinya tidak semakin kering.

“Hutan tropis itu sangat tergantung dengan curah hujan. Jadi hujan ada ya, hutan itu bersemi. Jadi ini berarti apa? Hutan ini membutuhkan satu perawatan pada saat musim kemarau,” ujarnya.

Salah satu upaya yang diusulkan Bambang ialah menyiram vegetasi secara berkala selama musim kemarau. Menurutnya, penyiraman tidak harus dilakukan setiap hari, tetapi dapat dijadwalkan untuk membantu menjaga kelembapan daun dan lingkungan hutan.

“Jadi daun yang disiram setiap hari, atau mungkin tidak usah setiap hari. Dalam satu minggu satu kali saja,” tuturnya.

Bambang juga menyinggung rentang waktu 21 hari sebagai pertimbangan dalam perawatan vegetasi. Ia menyebut penyiraman tiga kali dalam periode tersebut sebagai praktik yang, menurutnya, dilakukan di Malaysia.

“Bila dia lebih dari 21 hari tidak disiram, maka hutan itu akan kering. Apalagi lebih dari 21 hari, tambah kering lagi. Jadi dalam 21 hari berarti tiga kali penyiraman. Itu yang dilakukan oleh Malaysia,” kata Bambang.

Selain penyiraman berkala, ia mengusulkan pemasangan sprinkler yang dapat menyemprotkan air dari bagian atas kawasan hutan. Sistem tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menjaga kondisi vegetasi ketika curah hujan rendah.

“Seperti yang dilakukan Malaysia. Termasuk juga membuat satu sprinkler, semprotan dari atas. Air yang ada di hutan mengalir, bukan hutan buatan. Ya, hutan buatan juga mereka lakukan, tapi air mengalir dari atas ke bawah. Itu namanya sprinkler,” jelasnya.

Bambang juga menyoroti pentingnya menjaga kondisi vegetasi agar tidak mudah mengering. Ia menggambarkan bahwa daun dan ranting yang masih segar memiliki kandungan air yang perlu dijaga, terutama ketika kawasan hutan menghadapi cuaca panas berkepanjangan.

“Kalau tidak kering, nanti coba kita pendengar nyoba daun yang masih hijau. Itu daun yang masih hijau. Termasuk rantingnya, itu juga 80 persen adalah air,” ujarnya.

Meski demikian, penerapan sistem penyemprot air di kawasan hutan perlu dikaji lebih lanjut. Kondisi medan, ketersediaan sumber air, kebutuhan anggaran, serta efektivitas perangkat menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan sebelum usulan tersebut diterapkan.

Selain mengusulkan sistem penyemprot air, Bambang meminta perawatan kawasan hutan menjadi perhatian bersama, termasuk oleh Kementerian Kehutanan dan Perum Perhutani. Menurutnya, tanggung jawab menjaga kondisi hutan tidak cukup dibebankan kepada satu pihak.

“Perhutani ini harus tanggung jawab juga. Jadi tidak hanya Kementerian Kehutanan,” tegasnya.

Ia secara khusus menyoroti kawasan hutan di Jawa Timur dan meminta pengelola terkait memberi perhatian terhadap kondisi hutan selama musim kemarau. Upaya pencegahan, menurutnya, perlu dipersiapkan sebelum kebakaran terjadi agar risiko kerusakan kawasan dapat ditekan.

“Kehutanan ini yang harus tanggung jawab terhadap keringnya hutan-hutan kita. Tapi juga Perhutani di Jawa Timur. Ini yang harus dilakukan oleh Kementerian Kehutanan,” kata Bambang.

Data BPBD Jawa Timur pada 8 Oktober 2026 mencatat 150 kejadian kebakaran hutan dan lahan di 25 kabupaten/kota sejak Juni hingga awal Oktober. Luas lahan yang terbakar mencapai 9.540,25 hektare.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here